Kisah horror di Twitter dan fenomena kaum pelangi di social media
Bukan ramah lagi sih, tetapi lebih ke open. Gue punya pengalaman lucu, dan meresahkan juga. Gini ceritanya.
Kemarin, gue ketemu cowok random pas di salah satu space Twitter yang hostnya seorang cewek. Terus karena ngerasa gue cool diam mulu, ada cowok kemayu ngomong ke gue, "Winn, muka lo tuh booty banget." Gue salah dengar, gue itu plesetan Beauty. Tahunya, itu sindiran, "Muka lu tuh kayak pantat."
Fak. Mak gue capek-capek ngelahirin, muji gue, dan ketika gede, disamakan dengan pantat.
Yang artinya booty itu kayak kaum 🌈 yang lembut , dan penuh perasaan. Belum tahu saja, dia sekali kepret jadi dodol cileduk lu.
Vangke. Jujur selama di Space itu, gue diam doang, beda banget ama di space grup wibu yang berasa senior. Di Space curhatnya random banget, mulai dari pengalaman kisah sedih minggu mereka yang warna-warni, cewek yang curhat, gen pelangi yang curhat , ngomongin hukum, hingga hal random kayak "kenapa pentil gue keras" . Speechless Gue. Mereka itu kayak cewek juga yang ingin dimengerti, cuman gue berhak, gak harus ngerti 100℅ juga sih. Hidup gue juga udah terlalu rumit.
Gue ibarat anak TK baru main space, klik random space dan ternyata isinya sangat random dan open banget dengan kaum pelangi. Awalnya, gue kira mereka cuma abang abang doyan ngegym aja gituh yang hangout bareng cewek di socmed. Jadi, pas mereka follow saya, ku follow balik saja. Namun, setelah sehari kemudian gue tercengang. "Anjir beranda gue kok jadi banyak foto dan quotes-quotes homo yah?"😆😆😆
Ternyata mereka aktif like, comment, dan godain cowok kece seperti halnya cowok/cewek normal yang suka dm like foto foto artis cantik. Bagi kaumnya, normal dimatanya, tetapi enggak di mata gue.
Reaksi gue pas awal lihat.
Setelah kupertimbangkan, gue unfollow lagi aja dah. Toh, gak kenal juga di real life. Walau aslinya gak enakkan. Gue gak harus follow trend wokeism, supaya gue di cap keren. Mungkin, bagi nak gaul Jaksel hal ini sudah biasa yah, beda ama gue yang mainnya gundu ama mancing di sawah.
Soal orientasi seks itu urusan mereka, tetapi soal apa yang ingin gue lihat, itu jadi urusan saya.
Semenjak saat itu, gue pilah-pilih lagi deh, space yang mau gue ikutin. Gak asal masuk. Dan, kayaknya lebih suka VC di Telegram, soalnya lebih random orangnya.
Soal unfoll, Bukannya, gue gak respek dengan pilihan mereka, ya. Tetapi lebih menjaga diri gue sebagai jomblo pecinta wanita dari lahir. Takutnya, gue yang lelah nunggu-nunggu Jodoh dari Tuhan, berupa gadis imut yang goodlooking, malah pergi ke Jerman lalu berguru dengan Ragil, saking seringnya lihat post begonoh. Wih, amit-amit.
Kalo ada teman yang kemayu di real life, tentu saja ada cuma gak dekat. Cuman sebatas kenal, dan gue pun gak harus menyemekdon dia karena orientasi seksualnya, itu privasi dia. Kecuali dia macam-macam baru, gue kasih Thombstone atau RKO.
Yah, gak tahu ya, pendapat kalian gue "closed mind" Gak sih? Cuman karena risih, gue unfollow mereka. Soalnya geli-geli gimana gitu anjir, susah diceritain. Biasanya timeline yang diisi meme, dan gadis gadis bening, sekarang pusing dan pening sendiri lihat timeline gue dipenuhi cowok berpelukan kayak Teletabis.
Buat kalian yang Quora, mungkin bisa berteman dan mutual di Twitter. Siapa tahu timeline kalian lebih menyenangkan dan lebih berwawasan. Ya minimal sama-sama suka One Piece , dan ukhty baik hati. 😆
Yah, sekarang udah jarang jadi pembicara di space sih, lebih suka ngetik aja di Quora, dan komenin hal random, di Twitter.
Yah, sekarang gue bahagia dengan dunia khayal gue, menulis di Karyakarsa, atau bermimpi. Dan kaum laskar pelangi pun masih berdiskusi di space dan ujung pelangi, berkeluh tentang bagaimana dunia gak mau menerima, dengan orang yang support. Intinya, sibuk dengan urusan masing-masing. Enggak saling bersinggungan, hidup di zona nyamannya masing-masing.
Coba, buat yang punya pengalaman lucu, kalian juga boleh berkomentar.
Sekian dan Terima kasih.
Komentar
Posting Komentar