Bangkitnya Satria Pemalu : Lelaki Yang Menanggung Malu, Tetapi Termahsyur
Hidup itu lucu. Jujur, saya adalah orang yang "terlahir dari silsilah bangsawan" tetapi pernah mengalami "trauma" menjadi miskin atau orang susah. Terdengar konyol tapi begini ceritanya.
Mungkin jawaban ini bakal rileks kepada generasi milenial, terutama mereka yang ababil dan sedang mengalami sedihnya kehidupan.
Manusia selalu dipandang berdasarkan tahta dan harta. Akhlak itu nomor dua bagi mereka yang buta hati. Saya pernah merasa malu karena menjadi keturunan "orang suci" yang termahsyur. Sesosok mulia yang berasal dari Arab yang jauh. Namun, saya lebih hidup sebagai orang Sunda. Karena ayah saya masih keturunan Raja Sumedang/Garut walaupun saya tidak terlalu tahu.
Kenapa saya tidak sebut merek? Karena kalau saya sebut inisial, takutnya orang merasa jijik dengan sikap saya dan menganggap saya hama. Kira-kira seperti itulah insecurity saya pada diri sendiri.
Menurut saya cukup ironi, seorang keturunan Arab, yang gak bisa bahasa Arab, gak pernah ke Arab. Tapi, lebih suka anime Jepang, dan lagu-lagu rock n roll.
Keluarga besar ayah saya cukup terpandang, punya Pesantren besar dengan jamaah ratusan ribu. Jadi, tak heran apabila keluarga besarku dihormati sekali di pesantren. Tetapi, semenjak ayah saya meninggal, saya terkesan menjadi samsak perasaan yang selalu diledek karena status ibu saya yang janda. Karena itulah saya membuat buku berjudul Anak-anak Surya yang menceritakan keturunan Arab Sunda di Indonesia. Pengalaman penuh dramatis yang diceritakan secara jenaka. Tentang tiga orang anak yang bercita-cita menjadi seorang seniman terkenal di dunia.
Waktu SD saya seringkali mempertanyakan "Kenapa ya, orang-orang nggak berani ngebully sepupu saya yang terlahir kaya raya, tetapi mereka begitu merendahkan saya yang miskin dan yatim? Apakah karena saya pendiam, menjadi janda itu sesuatu yang hina, ataukah karena Tuhan pun benci dengan orang miskin?"
Tak heran walau saya bukan terlahir dari family yang susah susah amat, saya kesulitan membangun "networking" karena terkesan menjauhi sepupu saya yang kaya, dan mereka merasa bahwa "saya membenci mereka" padahal enggak. Mungkin, itu karena inner child saya yang sering dihina orang jadi ketika kita disandingkan dengan mereka yang tajir, kita menganggap diri kita sebuah kotoran yang bersinar.
Saya punya seorang tetangga yang sangat Toxic, dia merasa jijik dengan ibu saya. Entah apa alasannya, mungkin karena kita memiliki usaha yang mirip. Jika saya warkop maka dia adalah warung nasi. Dulu, Sebenarnya dia adalah orang yang ramah Tapi semenjak jadi orang kaya raya, Citra yang sebenarnya keluar. Ada pepatah yang mengatakan "Sifat asli seseorang akan muncul ketika orang itu menjadi kaya raya."
Dari sudut pandang dunia, Mister Kumis orang yang ramah senyum, tetapi sering menusuk dari belakang. Karena saya terkesan "anti sosial" seringkali dia berbicara hal-hal yang aneh. Seperti Ibu saya pelacur, anaknya pada belok, belum kawan-kawin, atau "Jangan nongkrong di sana, anaknya bego-bego." Semua hal yang dikatakannya adalah kotoran-kotoran yang berterbangan ke mukanya dirinya sendiri, tiada satu kebenaran yang keluar dari mulutnya.
Sudah jatuh tertimpa meteor, pernah ada pernah ada di momen saking miskinnya, Indomie semangkok dibagi tiga, terus diguna-guna sampai keluarga sakit-sakitan.
Konon, ada yang bilang. Hidup kita takkan berubah apabila belum ngalamin yang namanya sakit dan insekyuriti. Berhenti ngerasa "Kamu gak layak dicintai, kamu gak layak bahagia." Hanya karena orang-orang jauh lebih beruntung dari kamu, bukan berarti hidup kamu seburuk yang orang pikirkan.
Spiritual awakening
Fak. Saking gak jelasnya, dan jenuh dirundung, saya enggan untuk memacari cewek yang satu kampung, karena sudah keracunan dengan kata-katanya yang aneh. Ketika saya hendak menghajar si toxic neighbor, dengan lembut Ibu saya berkata "Hidup itu bukan kata orang lain, tetapi tentang apa yang kita pikirkan tentang diri kita sendiri. Kalau kamu merasa tidak maka tidak perlu dibikin repot."
Saya pernah berkata, "Seandainya roda nasib sudah berputar, saya mau tinggal di tempat yang jauh. Lebih bahagia dan sukses diperantauam daripada menjadi hina di kampung halaman sendiri."
Sangat aneh, bocah yang terkesan soleh berubah menjadi berandal nakal yang broken home dan bucin, seorang laki-laki yang bermimpi menjadi rockstar tapi malah berakhir menjadi seorang Berandal sastra. Menuliskan kisah kelamnya tentang cinta, kita, dan persahabatan di Bandung yang jauh. Aku cinta kita dan Bandung.
Sebagai old soul, kita memang nggak bisa membaca isi hati orang tapi kita tahu bagaimana cara Seseorang "berpikir". Hidup di lingkungan yang hiprokrit membuat saya, tidak tertarik untuk menjadi seorang ulama, Menjadi Lelaki super agamis yang rajin ke masjid setiap hari. Tak heran, masa muda cukup "nakal" walaupun terkesan "jaim". Bukan karena takut akan "Tuhan" tetapi sedih bila melihat seorang ibu yang membesarkan dimaki karena kenakalan yang tidak seberapa.
Hal itulah yang membuat saya pada awalnya "kurang suka agama". Sehingga pas ababil, sempat ada di momen menjadi seorang atheis dan agnostik karena muak dengan oknum relijius yang hiprokrit. Misalnya kayak hobi ghibah, bergama mengejar kesaktian, dll.
Namun, Karena itulah saya belajar banyak tentang spiritualitas baik dari dunia terang maupun dunia yang gelap. Bahkan, dari dunia luar angkasa seperti istilah lightworker.
Selepas kisah cinta di Bandung selesai, dan tamat sekolah, selama 10 tahun penuh, pernah ada di titik " depresi akut " di mana saya menjadi seorang wibu no life, akut, yang lebih pandai bicara sama kucing daripada ngedate sama cewek . Terlalu fokus mengejar kekayaan dan terkenal demi mencari sebuah pengakuan. Karena sebegitu melelahkannya dihina "miskin". Hati saya selalu berkata, " Aku harus menjadi kaya raya supaya aku hidup dengan bahagia."
Selalu bertindak impulsif dan Mengalihkan duniaku pada seni yang ekspresif. Cinta? Apa itu? Dulu, bagiku itu hanyalah sebuah fatamorgana kesenangan.
Itulah kenapa banyak santriwati yang diam di menjuluki, seorang "ganteng ganteng jomblo" atau "Pangeran warung kopi" karena selama 10 tahun itu saya nggak pernah membuka isi hati saya pada para gadis, bahkan sekadar membuka diri saya bergaul dengan anak-anak Surya lainnya seperti dulu. Karena dalam pikiran saya, "Selama kamu belum sukses, kamu hanya akan dianggap seekor tinja."
Setelah belajar prinsip stoikisme dari video singkat di "Tik tok" , saya yang selalu merasa lelaki yang menanggung malu, melihat diri saya sebagai manusia.
Saya yang menjadi domba yang tersesat, mulai kembali menata kehidupan saya. Apalagi, setelah saya ganti nama dari Raden menjadi Alwindara . Sebuah nama yang disarankan dari sosok "Misterius bercadar putih " yang memberi saya kesempatan kedua, untuk hidup kembali. Selengkapnya di sini
Setelah peristiwa itu saya mencoba untuk menjadi lebih "religius" dan spiritual di waktu yang bersamaan. Kurasa, Pintu Rezeki mulai perlahan terbuka dan pintu jodoh pun mulai terlihat lebih jelas, sosok gadis dalam ramalan di buku, mulai tercium keberadaan.
Sekarang saya mulai belajar pelan-pelan ajaran tarekat di pesantren, yang awalnya ternyata mengandung nilai-nilai "stoikisme", sesuatu yang awalnya tidak saya sukai menjadi sebuah panutan untuk menjadi hidup lebih baik. Sekarang saya paham, kenapa banyak orang yang rela jauh, dari jelata hingga toko politik, datang dan berguru Pesantren ini. Ternyata muslim sejati adalah muslim yang pandai "memelihara hati".
Ketika kita beribadah dengan alasan ketakutan maka itu akan melahirkan kebencian, tetapi ketika kita sudah mencapai "keikhlasan" maka beribadah adalah sebuah kenikmatan. Itulah makna dari spiritualitas dalam beragama.
Kenapa saya berkata begitu? Karena saya melihat banyak orang yang sudah tua rajin ibadah bukan karena dia mencintai Tuhannya Tetapi dia takut karena neraka, dan menginginkan surgaNya. Hal itulah yang sangat saya hindari.
Seperti singa di lautan rimba, sisi berandal itu, tidak bisa dihilangkan ke sangarannya tetapi bisa dijinakkan dengan cara dilatih. Mereka akan selalu menunjukkan sisi buasnya. Namun, mereka yang terdidik akan menunjukkan kegarangannya dengan cara yang estetik.
Apakah setelah tulisan ini ditulis saya sudah berhenti dihina?
Jawabannya adalah tidak. Bahkan, semakin menuju pucuk, semakin banyak ujian yang harus saya hadapi. Misalnya saja, rumah yang mau roboh ketika saya hendak menerbitkan buku saya. Atau, si tetangga bawel yang semakin "gacor" mengomel karena usaha Warkop kami sudah mulai bangkit kembali setelah Corona. Belum lagi, sifat hiperaktif saya yang harus saya kontrol.
Dan, ternyata Karma itu nyata. Kata-kata kerja yang dipantulkan kepada orang lain ternyata balik seperti bumerang menyerang dirinya sendiri.
Kita nggak pernah bisa menuntut dunia untuk berhenti membenci kita, tetapi kita bisa belajar bagaimana cara untuk berhenti membenci diri kita sendiri.
Anak-anak Surya telah belajar dewasa dan Putra "Batara Surya" telah terlahir kembali untuk menebus dosa. Dulu hidup untuk terkenal, sekarang hidup untuk hidup.
Notes: DM me, if u wanna share this answers, di luar Quora. Tulisan ini kucopas dari blog saya
Apakah kalian punya pengalaman"mirip" dengan saya? Coba sering saja.
Komentar
Posting Komentar