Harapan Dan Ekspektasi Orang Tua, Sesuatu Yang Indah dan Seram dalam waktu bersamaan
Berharap terlalu banyak. Salah satu hal yang paling menakutkan bagi seorang anak yang terlahir dari keluarga biasa saja adalah ketika orang tuanya berkata "Ibu doakan supaya kamu menjadi orang yang sukses, kaya raya, dan bahagia."
"Dari mana Sisi seramnya? "
Ada jutaan ibu yang berdoa seperti itu, tetapi realita, gak semua anak bisa memenuhi ekspektasi orang tuanya yang tinggi. Dan membahagiakan mereka secara 100℅ saat mereka hidup.
Harapan adalah candu yang menyenangkan dan menakutkan dalam waktu yang bersamaan. Terutama bagi kamu yang kurang memiliki "support system" untuk menggapai harapan-harapanmu. Entah karena financialmu, kepribadianmu atau pola pikirmu.
Banyak hal yang telah saya coba entah menjadi seorang animator, komikus, dan penulis, tetapi saya masih belum menemukan titik sukses itu. Sekarang, kulihat satu persatu gigi orang tuaku mulai menghilang rambutnya memudar dan menjadi putih, wajahnya penuh kerutan seperti serutan. Namun, aku tetap menjadi seorang beban keluarga yang belum menghasilkan apa-apa.
Ternyata kita tak sendirian. Tadi pagi saya melihat Tiktok, lihat orang umur 25 yang depresi dan udah ngerasa gagal karena belum ngehasilin apa-apa, terbebani oleh pencapaian kawan-kawannya. Aku mikir, "Kenapa ya, kalo orang lain bahagia, banyak orang yang ngerasa hancur gitu?"
Mungkin, bukan karena alasannya "pengen kaya raya, lebih ke ingin sukses, tetapi mumpung orang tua masih ada jadi sebisa mungkin ingin berbakti pada mereka. Harapan ortu dan ekspektasi yang besar, buatnya tertekan mentalnya.
Sebagai penulis idealis, saya gak pernah bisa mencegah realita hidupmu yang "sadis." Tahu gak. Hal yang paling menakutkan, bukan ketika kita gak bisa sampai puncak, tetapi ketika sampai puncak, kita lupa darimana kita bermula. Dan, tujuan kita sebenarnya.
Kadang ketika ada di pucuk, dunia terasa lebih kecil dan saat kamu memandang, terhalang kabut yang remang.
Saat dipucuk akan ada gadis yang berpura jadi rusukmu, akan ada kawan, yang hanya memanfaatkan, dan akan ada serigala yang mencoba menggulingkanmu . Namun, hanya akan ada seorang ibu, yang melihatmu sebagai anaknya.
Dulu, pas kenal ade Londok, dia itu cuma Mamang jamet yang berkomedi dengan keras. Di undang masuk televisi sana-sini, bahkan dijadikan duta kuliner oleh "ehm" Ridwan Kamil. Dapat cewek montok, Emaknya dijanjikan umroh, keluar masuk podcast, sejuta netizen tersihir oleh pesonanya.
Viral itu rasanya kayak kejatuhan meteor rezeki. Tapi, kalo kamu gak siap, ya sudah lah.
Sekarang, kemanakah nyaman itu? Kemanakah sorot kamera yang gemerlap? Kemiskinan kembali memeluknya.
Emaknya gagal ke Mekah, Tuhan lebih sayang, Bundanya dipanggil langsung ke singgasana Surga. Kini, jalanan kembali menjadi tempat sang Ironman tidur, dan menjahit adalah pilihan terbaik daripada dipandang sebagai "penjahat" Oleh dunia.
Di Tiktok ada video mamang ironman ini sedang tidur pulas sisi jalan, dikontenkan oleh temannya. Gue merenung. Emang dia semenderita itu ya?
Dan ada sebuah komen yang menyadarkan. Lihatlah betapa bahagianya dia, bisa tertidur pulas di jalan raya, tanpa takut kehilangan apa-apa. Baginnya, lebih baik banyak beramal, daripada viral terus kena mental.
Selama hidup aku pun belum pernah mencapai apa-apa, hanya lelaki dengan mimpi seribu perak yang sering melihat dunia Mimpi sejuta dolar.
Siapa pun kalian yang lelah, ku cuma mau berkata. "Beruntung itu soal nasib, tetapi bahagia itu sebuah pilihan. Bukan dari pandangan orang, tetapi bagaimana kau mencintai dirimu sendiri."
Setelah dewasa, saya sadar bahwasannya, memiliki ribuan harapan dan hanya sebagian yang jadi kenyataan itu jauh lebih baik daripada tidak memiliki harapan sama sekali dalam kehidupan.
Sekian dan terima kasih.
Komentar
Posting Komentar